Kesenian Genye Purwakarta

Genye singkatan dari Gerakan Nyere adalah kesenian hasil karya seniman Purwakarta yang mengedepankan unsur tradisional karena bahan yang digunakan untuk membuatnya adalah seperti nyere (sapu lidi), ayakan, injuk, dll. Kesenian Genye terdiri dari 3 unsur seni yaitu seni rupa, seni musik, dan seni tari. Yang sangat ditonjolkan pada kesenian ini adalah unsur artistiknya karena begitu unik yang mengedepankan unsur tradisional dan anak – anak yang bermandikan lumpur yang menggambarkan daerah plered sebagai sentra keramik.


Sapu lidi adalah simbolisme dari upaya membersihkan diri dan hati baik dari sikap iri, dengki atau menuduh dan fitnah kepada orang lain. Ayakan atau saringan simbolisme dari usaha menahan diri untuk mengeluarkan ucapan yang buruk, “kudu diayak heula”. Dan aseupan bentuknya yang lancip simbolisme ketauhidan kepada Tuhan.


Jenis musik untuk mengiringi kesenian Genye ini adalah perkusi, alat musik yang digunakan adalah seperti bedug, dog dog, timbalis, genjring, terompet, dan goong. Alat musik yang digunakan bisa bertambah atau berkurang sesuai kebutuhan pertunjukan. Untuk tariannya adalah tari kontemporer yang membentuk gerakan dan pola yang dibuat sesuai kebutuhan pertunjukan. Penari Genye memiliki ciri khas yaitu menari menggunakan sapu lidi (nyere) dan kostum yang mengedepankan unsur tradisional. Jumlah penarinya disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan, bisa 3 orang, 9 orang, atau hingga 25 orang.
Pertunjukan Kesenian Genye biasanya karnaval atau oleh masyarakat Jawa Barat lebih dikenal dengan Helaran, dan juga diperuntukan dipanggung pertunjukan, sehingga jumlah pemain dan kemasannya bisa berubah – ubah.


Dari sebatang lidi dimasyarakat kita terdapat suatu kebiasaan bila seseorang melahirkan untuk tidak diganggu jin atau setan, orang tua kita dulu mengusirnya dengan seutas lidi. Kebiasaan lain orang tua kita dulu dalam mendidik anaknya yaitu ketika marah hanya sekedar memarahi anaknya dengan memukulkan sapu lidi pada kakinya.
Dari dulu hingga saat ini setiap orang membersihkan sampah yang berserakan dengan sapu lidi. Lantas kenapa dengan sapu lidi? Karena dia selalu menginginkan dan merindukan prilaku dan kehidupan yang bersih, bukan saja lahir tetapi maupun batin.


Sampah yang kita ketahui saat ini adalah sesuatu yang berserakan dan busuk yang ada dirumah atau jalan. Tetapi bukan hanya itu, apakah kita lupa dengan sifat dan prilaku kita yang buruk yang hinggap dan berserakan dihati kita. Itu adalah sampah yang paling menjijikan dalam diri manusia. Oleh karena itu, sebatang lidi yang selalu merindukan sosok manusia bersih, bukan hanya bersih pada dirinya tetapi bersih dalam ahlak dan prilakunya.

Alam tempat kita berlindung senantiasa mendidik kita. Mendidik untuk cinta kepada lingkungan, mendidik untuk memelihara lingkungan dan mendidik untuk menjaga lingkungan. Dari kumpulan–kumpulan sebatang lidi akan menjadi suatu alat untuk membersihkan sampah yang ada pada lingkungan kita. Hal tersebut akan juga mendidik kita untuk menjadi manusia bersih dari sampah – sampah yang berserakan dalam diri manusia. Dalam Bahasa Sunda lidi disebut nyere. Nyere adalah batang daun nipah atau kelapa yang sudah mengering.

Dengan dibungkus oleh gerakan kesenian maka hal – hal yang dimaksudkan tersebut akan tersampaikan. Kesenian ini disebut Gerakan Nyere, atau yang disingkat GENYE. Dengan adanya Gerakan Nyere ini diharapkan akan membentuk manusia yang bersih lingkungannya, bersih dirinya dan bersih hatinya. Dan diharapkan juga akan membentuk bangsa yang bersih.